Showing posts with label Pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label Pengetahuan. Show all posts

Tuesday, October 5, 2021

Membuat Peraturan dan Prosedur Kelas

 Sebelum mengulas tentang peraturan dan prosedur pada suatu ruang kelas, terdapat sebuah cerita menarik tentang kegiatan belajar-mengajar. Perhatikan kisah lengkapnya berikut ini.

Sumber: suara.com

Di suatu sekolah, bel berdering tepat pada pukul delapan. Semua murid telah berada di dalam kelas masing-masing dan memulai kegiatan. Ada yang berdoa maupun mengucapkan salam kepada guru pembimbing. Namun, di kelas yang paling ujung, murid-murid masih terlihat bercanda dan bermain-main. Setelah diamati, ternyata guru yang seharusnya mengajar belum masuk kelas. Selang beberapa menit, akhirnya guru memasuki ruangan. Akan tetapi, anak didiknya masih bermain tanpa menghiraukan kedatangannya.

“Semua duduk!”, perintah sang guru. Akhirnya, seluruh murid pun duduk dikursinya masing-masing. Akan tetapi, terdapat tiga murid yang duduk sambil bercakap-cakap agak nyaring. Sang guru berusaha memulai kegiatan belajar mengajar dengan mendiskusikan tema berupa darmawisata. Hanya saja, begitu mulai menjelaskan, murid-murid yang mendengarkan hanya sedikit.

Setelah melakukan diskusi selama beberapa menit, ada dua murid yang terlambat memasuki ruang kelas tanpa seizin guru. Tidak hanya itu, murid yang terlambat tersebut tidak mengenakan seragam dengan rapi. Adapun disudut ruangan, terdapat beberapa murid tengah bersenda gurau. Ada pula yang keluar kelas tanpa izin karena merasa tidak tertarik dengan materi diskusi. Ruangan pun menjadi riuh atau tidak kondusif untuk belajar.

Tanpa memberi peringatan untuk diam, guru terus melanjutkan diskusi. Bahkan ia memberikan sejumlah pertanyaan kepada muridnya tentang darmawisata. Akan tetapi, murid-murid yang menanggapi pertanyaannya hanya sedikit. Hal ini disebabkan situasi kelas yang tidak kondusif untuk belajar. Sang guru akhirnya tersadar dan dengan segera menghentikan diskusi. Ia meminta seorang murid untuk membagikan kertas kepada teman-temannya. Setelah pembagian kertas selesai, guru memerintahkan anak didiknya untuk mengisi kertas tersebut.

Hal yang selanjutnya terjadi ialah wajah kebingungan para murid. Mereka diliputi tanda Tanya besar mengenai hal-hal yang harus dituliskan atau pertanyaan yang perlu dijawab. Setelah kebingungan tidak terpecahkan, para siswa berbondong-bondong ke depan kelas untuk bertanya kepada sang guru mengenai maksud kertas yang dibagikan.

Ketika para pengamat diminta memberikan tanggapan mengenai kisah tersebut, sangat mungkin mereka menganggap guru yang sedang mendampingi murid melakukan tindakan yang salah. Boleh jadi mereka akan berkata , “Dimana wibawa guru itu?”,  “Menjadi guru harus tegas!”, atau "Buatlah pelajaran yang menarik untuk memikat perhatian murid!” Beberapa pengamat bahkan menyarankan guru tersebut untuk menerapkan system hukuman guna membenahi perilaku murid yang mengganggu proses pembelajaran.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan saran-saran tersebut. Akan tetapi, para pengamat tersebut kurang mempertimbangkan masalah-maslah yang mendasar. Misalnya murid belum dapat membedakan perilaku yang baik dan buruk serta guru tidak memiliki prosedur untuk memandu perilaku anak didiknya. Sebagaimana disebutkan di dalam cerita, masalah-maslah mendasar terlihat jelas dalam banyak hal, mulai dari guru yang datang terlambat, murid berbicara saat guru sedang memimpin diskusi, berpakaian tidak rapi, masuk dan meninggalkan kelas tanpa izin serta tidak merespons pertanyaan dari guru.

Perilaku para murid dalam cerita tersebut sebenarnya dapat diatasi apabila mereka menyadari hal-hal yang sesuai dengan tugas dan kewajiban di sekolah. Seorang penuntut ilmu tentu tidak pantas menunjukkan perilaku sebagaimana dilakukan murid-murid tersebut. Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan suatu peraturan untuk menjaga ketertiban di dalam kelas.

Seorang guru juga harus mengingat bahwa lingkungan unik diciptakan oleh organisasi sekolah berdasarkan peraturan yang baik. Tentu saja peraturan tersebut patut dimiliki bersama oleh setiap warga sekolah. Dalam satu hari, seorang guru dapat mengawasi lebih dari dua puluh lima murid. Sehingga tidak mungkin ia mampu mengawasi secara ketat  jumlah murid sebanyak itu. Oleh karena itu diperlukan sebuah peraturan yang baik dan konsisten di wilayah pembelajaran. Meskipun para siswa meninggalkan kelas, misalnya saat jam istirahat, secara umum perilaku murid tetap dapat terkontrol tanpa harus mengatur anak didiknya secara keras.

Disisi lain, seorang guru mampu menerapkan peraturan atau prosedur dapat mudah menjalin komunikasi dengan muridnya. Dalam kisah disebutkan sebelumnya banyak murid tidak memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru. Dengan demikian guru yang mampu merumuskan peraturan secara baik dapat mengurangi beban dalam menghadapi siswa. Sebab, ia tidak perlu berkomunikasi dengan tenaga berlebihan, tetapi cukup menyampaikan materi secara rileks.

 

 

Sumber: Setyanto, N. Ardi. 2014. Panduan Sukses Komunikasi Belajar Mengajar. Yogya karta: Diva Press

Friday, October 1, 2021

KONSEP MERDEKA BELAJAR

 Pada tahun 2019 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menetapkan empat program pokok kebijakan pendidikan “Merdeka Belajar”. Nah disini saya ingin meluruskan konsep merdeka belajar, banyak orang yang berpendapat bahwa konsep merdeka belajar adalah bebas dari belajar, padahal konsepnya bukan seperti itu.

Menurut Pusdatin Kemdikbud (2021) Kebijakan Merdeka Belajar bercita-cita menghadirkan Pendidikan bermutu tinggi bagi semua rakyat Indonesia, yang dicirikan oleh angka partisipasi yang tinggi di seluruh jenjang pendidikan, hasil pembelajaran berkualitas, dan mutu Pendidikan yang merata baik secara geografis maupun status sosial ekonomi. Berkaitan dengan guru, Kebijakan Merdeka

Belajar akan mengubah paradigma guru sebagai informasi semata menjadi guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar. Dalam hal pedagogi, Kebijakan Merdeka Belajar akan meninggalkan pendekatan standarisasi menuju pendekatan heterogen yang lebih paripurna memampukan guru dan murid menjelajahi khasanah pengetahuan yang terus berkembang. Murid adalah pemimpin pembelajaran dalam arti merekalah yang membuat kegiatan belajar mengajar bermakna, sehingga pembelajaran akan disesuaikan dengan tingkatan kemampuan siswa dan didukung dengan beragam teknologi yang memberikan pendekatan personal bagi kemajuan pembelajaran tiap siswa, tanpa mengabaikan pentingnya aspek sosialisasi dan bekerja dalam kelompok untuk memupuk solidaritas sosial dan keterampilan lunak (soft skills).

                                                    Sumber gambar: edukasi.kompas.com

Sistem pengajaran akan mengalami perubahan dari yang awalnya bernuansa di dalam kelas menjadi di luar kelas. Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, karena murid dapat berdiskusi lebih dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orang tua saja, karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing. Nantinya, akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.

Kebijakan Merdeka Belajar sendiri terbagi menjadi beberapa Episode. Berikut ini adalah pemaparan dari setiap episodenya.

a.       Episode I

Pada Episode 1 Kemendikbud menetapkan 4 pokok kebijakan, yaitu : 1) Ujian Nasional (UN) akan digantikan oleh Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Asesmen ini menekankan kemampuan penalaran literasi dan numerik yang didasarkan pada praktik terbaik tes PISA. 2) Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) akan diserahkan ke sekolah. 3) Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 4) Dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB), sistem zonasi diperluas (tidak termasuk daerah 3T).

b.      Episode II

Episode II ini dikenal dengan nama Kampus Merdeka. Kemendikbud melakukan penyesuaian di lingkup pendidikan tinggi diantaranya pembukaan program studi baru, sistem akreditasi perguruan tinggi, Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum, dan hak belajar tiga semester di luar program studi.

c.       Episode III

Pada Merdeka Belajar Episode III, Kemendikbud mengubah mekanisme bantuan dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk tahun anggaran 2020. Salah satu prinsip penggunaan dana BOS pada tahun 2020 adalah fleksibilitas. Peningkatan fleksibilitas dan otonomi penggunaan dana BOS bertujuan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan sekolah, terutama untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer.

d.      Episode IV

Selanjutnya pada Merdeka Belajar episode IV, yaitu terkait Program Organisasi Penggerak (POP). Paket kebijakan itu bertujuan untuk semakin memberdayakan organisasi masyarakat dalam membangun Sekolah Penggerak.

e.      Episode V

Selanjutnya pada 3 Juli 2020, Kemendikbud meluncurkan Merdeka Belajar Episode V: Guru Penggerak. Arah program Guru Penggerak berfokus pada pedagogi, serta berpusat pada murid dan pengembangan holistik, pelatihan yang menekankan pada kepemimpinan instruksional melalui on-the-job coaching, pendekatan formatif dan berbasis pengembangan, serta kolaboratif dengan pendekatan sekolah menyeluruh.

f.        Episode VI

Pada 3 November 2020 Kemendikbud meluncurkan Merdeka Belajar Episode VI, yaitu “Transformasi Dana Pemerintah untuk Pendidikan Tinggi” yang diresmikan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Kebijakan ini diluncurkan dalam rangka mendukung visi Presiden Joko Widodo dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) unggul, salah satunya melalui transformasi pendidikan tinggi agar mampu mencetak lebih banyak lagi talenta-talenta yang mampu bersaing di tingkat dunia.

g.       Episode VII

Pada tanggal 1 Februari 2021 Kemendikbud secara resmi merilis Merdeka Belajar episode ke VII : Program Sekolah Penggerak. Program Sekolah Penggerak merupakan katalis untuk mewujudkan visi reformasi pendidikan Indonesia yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik melalui enam Profil Pelajar Pancasila.

h.      Episode VIII

Pada tanggal 17 Maret 2021 Kemendikbud meluncurkan program Merdeka Belajar episode ke VIII : SMK Pusat Keunggulan. Melalui SMK Pusat Keunggulan, tantangan SMK dalam menghasilkan lulusan yang mampu menjawab kebutuhan dunia kerja diharapkan dapat terwujud.

 

Esensi Merdeka Belajar adalah menggali potensi terbesar para guru dan murid untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Inovasi yang dilakukan tak lepas dari dukungan teknologi yang dapat digunakan sebagai alat bantu guru dalam meningkatkan potensinya

 

 

Sumber: Saputra, I Made Budhi.dkk. 2021. Modul 1 Merdeka Belajar Bersama Rumah Belajar. Jakarta: Pusdatin Kemdikbud.

Friday, July 27, 2018

Video dan Lirik Lagu Indonesia Raya 3 Stanza


Pelaksanaan upacara bendera di sekolah wajib dilaksanakan setiap hari senin. pelaksanaan upacara bendera di sekolah merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang mencakup nilai-nilai penanaman sikap disiplin, kerjasama, rasa percaya diri, dan tanggung jawab yang mendorong lahirnya sikap dan kesadaran berbangsa dan bernegara serta cinta tanah air di kalangan peserta didik. 


Salah satu bagian dari upacara bendera hari senin adalah penaikan bendera yang dilakukan oleh siswa dan diiringi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh paduan suara yang dipimpin oleh seorang dirigen. Berdasarkan permendikbud no 22 Tahun 2018 tentang Pedoman Upacara Bendera di Sekolah, Lagu Indonesia Raya  dinyanyikan secara lengkap dalam 3 (tiga) stanza oleh peserta Upacara dengan berdiri tegak dan sikap hormat.

Berikut ini lirik Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

                               LIRIK LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA
                                                      DENGAN TIGA STANZA


Stanza 1:
Indonesia Tanah Airku Tanah Tumpah Darahku
Disanalah Aku Berdiri Jadi Pandu Ibuku
Indonesia Kebangsaanku Bangsa dan Tanah Airku
Marilah Kita Berseru Indonesia Bersatu
Hiduplah Tanahku Hiduplah Negeriku
Bangsaku Rakyatku Semuanya
Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya
Untuk Indonesia Raya
(Reff: Diulang 2 kali)
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku Negeriku yang Kucinta
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya

Stanza 2:
Indonesia Tanah Yang Mulia Tanah Kita Yang Kaya
Disanalah Aku Berdiri Untuk Selama-lamanya
Indonesia Tanah Pusaka Pusaka Kita Semuanya
Marilah Kita Mendoa Indonesia Bahagia
Suburlah Tanahnya Suburlah Jiwanya
Bangsanya Rakyatnya Semuanya
Sadarlah Hatinya Sadarlah Budinya
Untuk Indonesia Raya
(Reff: Diulang 2 kali)
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku Negeriku Yang Kucinta
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya

Stanza 3:
Indonesia Tanah Yang Suci Tanah Kita Yang Sakti
Di sanalah Aku Berdiri Menjaga Ibu Sejati
Indonesia Tanah Berseri Tanah Yang Aku Sayangi
Marilah Kita Berjanji Indonesia Abadi
Selamatlah Rakyatnya Selamatlah Putranya
Pulaunya Lautnya Semuanya
Majulah Negerinya Majulah Pandunya
Untuk Indonesia Raya
(Reff: Diulang 2 kali)
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku Negeriku Yang Kucinta
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya

Video Lagu Indonesia Raya 3 Stanza
                               Sumber Video: https://www.youtube.com/watch?v=gjqo_3_fZf4

Monday, August 8, 2016

Karakteristik Khas Pada Tunadaksa



Sumber Foto: https://www.scribd.com/doc/87913988/Anak-Tunadaksa

Pada postingan beberapa hari yang lalu sudah saya bahas tentang Jenis-Jenis Anak Berkebutuhan Khusus diantaranya adalah tunadaksa atau sebutan umumnya orang menyebut dengan orang cacat tubuh yang diartikan sebagai individu dengan gangguan fisik atau motorik atau mereka yang mengalami gangguan otot, tulang, sendi dan sistem persyarafan yang mengakibatkan kurang optimalnya fungsi komunikasi, mobilitas, sosialisasi dan perkembangan keutuhan pribadi. Pada kesempatan kita akan mengenal lebih jauh tentang karakteristik khas tunadaksa. Mari kita simak beberapa karakteristik khas pada tunadaksa  yang saya kutip dari Rachmayana (2016) diantaranya adalah sebagai berikut:

1.      Aspek Motorik
Gangguan motorik tampak dari aktivitas seperti berpindah tempat, bergerak dan berjalan
2.      Aspek Sensoris
Berupa kurang berfungsinya indra mata, telinga dan indera lainnya. Diantaranya terdapat juga yang mengalami mata juling.
3.      Aspek Persepsi
Gangguan pada kemampuan persepsi individu. Karena hal ini dipengaruhi oleh keutuhan indera dan proses pengolahan otak.
4.      Aspek Kognisi
Kelainan otak yang dialami oleh sebagian individu yang mengalami gangguan fisik dan motorik sangat mempengaruhi kemampuan kogisinya.
5.      Aspek Bicara
Keterbatasan dalam kemampuan berbicara dapat dipengaruhi oleh karena organ bicara yang mengalami kelumpuhan, dapat juga karena keterbatasan dalam pengolahan informasi menjadi bahasa sehingga individu yang mengalami gangguan fisik dan motorik dapat mengalami gangguan dalam perkembangan bicaranya.
6.      Aspek Emosi dan Penyesuaian Sosial
Respon dan sikap lingkungan mempunyai pengaruh yang dapt membentuk pribadi individu yang terganggu fisik dan motoriknya.

Adapun karakteristik khusus anak Cerebral Palsy (CP) menurut Assjari (1995) yaitu kelainannya terletak pada sistem syaraf pusat otak (otak dan sumsum tulang belakang). Kelainan yang terjadi diakibatkan oleh kerusakan pada sistem cerebral. Beberapa karakteristik dari anak CP terdiri atas:
1.      Gangguan Motorik
Gangguan motorik pada anak CP berupa kekakuan, kelumpuhan, gerakan-gerakan yang tidak  dapat dikendalkan, gerakan ritmis, dan gangguan keseimbangan. Gangguan motorik yang lain pada anak CP berupa kesukaran berpindah tempat, bergerak, dan berjalan. Kesukarn bergerak, berpindah tempat, dan berjalan terjadi karena salah satu atau kedua kakinya lumpuh.
Dilihat dari aktivitas motorik, intensitas gangguan pada CP dikelompokkan atas: hiperaktif, hipoaktif dan tidak ada koordinasi. Kelainan hiperaktif sering ditandai dengan gerakan-gerakan yang berlebihan. Anak-anak hiperaktif tampak sebagai anak yang tidak pernah istirahat. Mereka berjalan, berlarian dan selalu berpindah tiada hentinya. Selalu gelisah dan tidak dapat berkonsentrasi pada satu objek.
Kelainan hipoaktif merupakan kelaianan dari hiperaktif. Ciri-ciri hipoaktif yaitu pendiam, gerakannya lamban dan kurang merespon rangsangan yang diberikan  kepadanya. Sedangkan tidak adanya koordinasi gerak terjadi karena adanya kekakuan pada anggota geraknya. Anak hipoaktif terkadang sulit untuk melakukan gerak yang lebih halus, seperti menulis, menggambar, dan menari.
2.      Gangguan Sensoris
Pusat sensoris manusia terletak pada otak. Adanya keusakan pada otak, seperti halnya pada anak Cerebral Palsy, sering juga ditemui yang menderita gangguan sensoris. Gangguan sensoris yang dimaksudkan yaitu kelainan penglihatan, pendengaran dan kemampuan kesan gerak dan raba.Gangguan penglihatan pada CP terjadi karena tidak seimbangan otot-otot mata sebagai akibat kerusakan otak. Bentuk kelainannya berupa juling, penglihatan gand, strabismus, nystagus, rabun, pandangan jauh (hyperopia), dan pandangan dekat (miopi). Gangguan pendengaran pada anak CP sering dijumpai pada jenis athetoid. Gangguan pendengaran pada anak CP terjadi karena anak sering mengalami kejang-kejang sehingga syaraf pendengaran tidak berfungsi baik.
3.      Tingkat Kecerdasan
Tingkat kecerdasan anak CP mempunyai renang tertentu mulai dari tingkat yang paing dasar, yaitu idioly sampai gifted. Sebagian CP sekitar 45% mengalami keterbelakangan mental dan 35% lagi memiliki tingkat kecerdasan sedikit di bawah rata-rata (Asjsjari, 1995).
4.      Kemampuan Persepsi
Selain mengalami kelainan motorik, anak CP juga mengalami kelainan persepsi Persepsi seseorang diperoleh melalui tahapan-tahapan. Tahapan pertama stimulus merangsang alat indera, berikutnya rangsangan tersebut diteruskan ke otak oleh syaraf sensoris dan pada akhirnya otak menerima, menafsirkan  dan menganalisis rangsang tersebut dan terjadilah peristiwa persepsi.
5.      Kemampuan Kognisi
Kognisi merupakan suatu proses interaksi yang dinamis antara individu yang telah matang dengan lingkungan yang terjadi secara terus menerus melalui persepsi dengan menggunakan media sensori (indra). Dalam proses tersebut terjadi pengenaln, pemahaman penghayatan dan interpretasi terhadap informasi lingkungan.
6.      Kemampuan Berbicara
Kebanyakan anak CP mengalami gangguan bicara. Gangguan bicara mereka disebaabkan oleh kelainan motorik otot-otot bicara dan ada pula yang terjadi karena kurang dan tidak terjadinya proses interaksi dengan lingkungan. Otot-otot bicara yang lumpuh atau kaku (spasm) seperti lidah, bibir dan rahang bawah akan mengganggu pembentukan artikulasi yang benar.
7.      Simbolisasi
Simbolisasi merupakan bentuk tertinggi dari kemampuan mental dan memerlukan konsentrasi secara abstrak. Proses pembentukan simbol dapat dikelompokkan dalam menerima dan menyampaikan fungsi kata dan gerakan. Simbol diterima melalui pendengaran dan penglihatan. Kesulitan dalam pendengaran dapat mempengaruhi ketidakmampuan menangkap ucapan-ucapan yang disampaikan dan tidak mengerti apa yang dibicarakan. Edangkan kesulitan dalam penglihatan mengakibatkan sesorang mengalami hambatan dalam menangkap isi pesan tertulis.

Demikian postingan saya kali ini, semoga adanya artikel ini dapat menambah pengetahuan kita tentang karakteristik khas tunadaksa. Terima kasih sudah membaca dan semoga bermanfaat.

Sumber Pustaka:
Assjari. 1995. Ortopedagogik Tunadasa. Proyek pengadaan Buku Ajar Bagi Perguruan Tinggi. Dikti. Jakarta.
Rachmayana, Dadan. 2016 Menuju Anak Masa Depan yang Inklusif. Luxima Metro Media. Jakarta Timur.

Tuesday, August 2, 2016

Jenis-Jenis Anak Berkebutuhan Khusus



Sumber Ilustrasi: http://rusminisinaga.com/pendidikan-anak-berkebutuhan-khusus/

Sebelumnya saya telah memposting tentang Sekolah Dasar Negeri Ilung Sebagai Salah Satu Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif dengan membahas bagaimana pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah tersebut. Pada tulisan itu juga saya jelaskan tentang anak berkebutuhan khusus (ABK).  Pada tahun pelajaran 2016/2017 jumlah ABK yang dilayani di SDN Ilung antara lain:

1.      Tuna Grahita 1 orang
2.      Lambat Belajar 9 orang
3.      Tuna Daksa 1 orang
Nah, untuk jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ini pada postingan yang lalu tidak saya jelaskan secara rinci. Pada kesempatan ini saya akan menjelaskan Jenis-Jenis Anak Berkebutuhan Khusus. Ada berbagai macam jenis-jenis anak berkebutuhan khusus, namun khusus untuk kebutuhan pendidikan inklusi, anak yang berkebutuhan khusus dikelompokan menjadi 9 jenis seperti yang saya kutip dari www.solusisehatku.com, yaitu sebagai berikut:
1.        Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan
Tunanetra merupakan seoarng anak yang memang mengalami gangguan terhadap penglihatannya. Hal ini berupa kebutaan yang menyeluruh ataupun hanya sebagian, walaupun anak yang mengalami kejadian seperti ini telah di berikan pertolongan dengan sejumlah alat bantu khusus, namun ia tetap masih membutuhkan pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
2.        Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran
Tunarungu adalah seorang anak yang kehilangan sebagian atau bahkan seluruh daya pendengarannya, sehingga ia tidak atau bahkan kurang mampu untuk melakukan komunikasi dengan baik.
3.        Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan
Anak yang mengalami kelainan tunadaksa yaitu anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap yang terjadi pada alat gerak sedemikian rupa, sehingga anak tersebut sangat membutuhkan pendidikan khusus.
4.        Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa
Anak yang berbakat merupakan seorang anak yang memiliki potensi kecerdasan dengan tingkat yang baik. Bukan hanya kecerdasan, ia juga memiliki kreativitas serta tanggung jawab terhadap tugas yang kemampuannya melampawi anak-anak seusianya.
5.        Tuna grahita
Kejadian ini merupakan anak yang secara kenyataan mengalami hambatan juga keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa, sehingga ia akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan sejumlah tugas yang menjadi tanggung jawabnya, komunikasi ataupun sosial.
6.        Lamban belajar (slow learner)
Lamban belajar merupakan anak yang memiliki potensi intelektual dengan jumlah yang tidaklah banyak, bahkan jumlahnya di bawah normal namun belum memasuki tunagrahita.
7.        Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik
Seorang anak yang memiliki kesulitan dalam belajar spesifik merupakan anak yang di lihat secara mental mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademis khusus, hal ini di duga karena adanya faktor disfungsi neugologis, dan bukan di sebabkan karena faktor inteligensi.
8.        Anak yang mengalami gangguan komunikasi
Seorang anak yang mengalami gangguan dalam berkomunikasi yaitu anak-anak yang memang mengalami kelainan terhadap suara, artikulasi, atau bahkan kelancarannya dalam berbicara, yang memang mengakibatkan terjadinya penyimpangan dalam bentuk bahasa.
9.        Tuna laras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku.
Tunalaras adalah seorang anak yang mengalami kesulitan dalam proses menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitarnya, yang memang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di dalam lingkungan kelompok uisanya.

Demikian postingan saya kali ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Wassalam!

Sumber: www.solusisehatku.com

Saturday, July 30, 2016

Tips Mendidik Karakter Anak dalam Keluarga



Rumah adalah tempat belajar pertama bagi anak-anak. Sementara ibu adalah guru pertama dan guru terbaik. Ditempat tersebut, anak akan belajar apapun dari personil yang ada di rumah, entah itu ayah ibunya, kakek neneknya, paman bibinya dan para tetangganya. Namun dari sekian banyaknya personil di rumah, tetap yang menajdi pengajar utama adalah orang tua atau ayah dan ibunya.


Penididikan anak dalam keluarga untuk mengajarkan kasih sayang, pengertian, komunikasi, rasa percaya diri dan lain sebagainya harus diajarkan oleh orang tua melalui contoh perilaku kehidupannya. Jika hal baik yang dicontohkan, maka hal tersebut akan membekas selamanya., begitupun sebaliknya jika hal buruk yang dicontohkan, maka hal tersebut pun membekas selamanya.
Sumber Ilustrasi: http://www.foredi.co/keharmonisan-itu-perlu-menciptakan-keluarga-harmonis-mulai-dari-keterbukaan-komunikasi/

Otak anak ibarat spon yang memiliki daya serap yang tinggi. Dia bisa menyerap semua informasi yang didapatkan melalui apa yang dia lihat, dia dengar, dan dia rasakan saat di rumah. Maka tidak sedikit anak yang memiliki latar belakang keluarga yang berantakan dan kurang harmonis, pada saat dewasa menjadi anak yang tidak teratur dan berantakan, walaupun sudah disekolahkan di sekolah unggulan atau sekolah yang menerapkan disiplin yang ketat, tetap saja anak tersebut tidak bisa diatur karena kebiasaan tersebut sudah membekas sejak kecil.

Berbeda dengan anak yang dibesarkan dengan kasih saying, menyaksikan usaha dan kerjasama orangtuanya dalam membesarkan dan mendidik nya, walau disekolahkan hingga jenjang SD pun anak tersebut akan mengerti tentang bagaimana mengasihi sesame dan bagaimana memperjuangkan tanggung jawabnya. Apapun perilaku dan kepribadian yang ditunjukkan orang tua kepada anak adalah pendidikan anak dalam keluarga.

Sebagai orang tua kita pasti menginginkan yang terbaik bagi anak kita. Oleh karena itu silakan ikuti tips dari Damayanti (2014) tentang pendidikan karakter anak untuk keluarga berikut ini.

1.    Anda adalah Figure Diteladani Anak Anda
Menjadi figure memang tidak mudah, apapun yang kita lakukan akan menjadi teladan bagi orang yang mengaguni figure kita. Orang tua adalah figure idola bagi anak-anaknya. Darinya anak belajar tentang segala hal yang dicontohkan, baik itu hal buruk ataupun hal baik. Ingatlah ini selalu, agar anda bisa menahan emosi dan mengontrol diri di rumah sehingga memperlihatkan keharmonisan, menunjukkan rasa saling menghargai, memperlihatkan upaya saling mendukung, dan cara menunjukkan limpahan kasih saying dihadapan sang anak.

2.    Rumah Adalah Sekolah Pertama bagi Anak
Jenjang pendidikan mulai dari TK, SAD, SMP, dan SMA hingga perguruan tinggi merupan jenjang pendidikan lanjutan bagi anak. Awal mula anak digambleng, dididik dan diarahkan adalah sebelum itu, yaitu sekolah rumah. Tentu saja orang tua dan orang yang ada dalam rumah adalah guru pertama kali bagi anak. Karena itu, buatlah rumah sebagai sekolah yang selalu mengajarkan kebaikan dan pendidikan anak dalam keluarga.

Dengan tips diatas diharapkan kita akan dapat mencetak generasi kita menjadi manusia yang lebih baik dari kita. Hal ini sekaligus membangun Negara dan bangsa karena kita telah mencetak generasi unggul bagi bangsa kita. Mari kita jadikan generasi penerus dan luar biasa dengan melakukan pendidikan karakter anak untuk keluarga diatas.

Sumber: Damayanti, Deni. (2014). Panduan Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah. Yogyakarta: Araska