Showing posts with label Publikasi Ilmiah. Show all posts
Showing posts with label Publikasi Ilmiah. Show all posts

Sunday, October 10, 2021

Kenali 4 Hal ini Sebelum Melaksanakan PTK

Sumber Foto: Dok Pribadi
Menulis dan menyusun karya tulis ilmiah bagi sebagian orang mungkin merupakan pekerjaan yang menyulitkan, akan tetapi bagi sebagian lain menulis itu mudah, kedua hal tersebut wajar saja terjadi. Mudah atau sulitnya menulis tidak disebabkan karena sebagian orang memiliki bakat dan sebagian lainnya tidak berbakat. Kemampuan menulis tidak tergantung dari bakat seseorang. Orang yang tidak berbakatpun bisa menulis, karena kemampuan menulis diperuntukkan bagi siapa saja tidak kenal kasta, status social, ekonomi, tidak kenal suku dan agama, tidak peduli pimpinan atau bawahan.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan salah satu karya tulis dalam bidang pendidikan, PTK merupakan salah satu kegiatan pengembangan profesi guru untuk meningkatkan mutu pendidikan, khusunya pembelajaran di sekolah. Untuk setiap kegiatan dalam kegiatan pengembangan profesi yang dil;akukan dengan baik dan benar diberikan angka kredit. Angka kredit adalah angka yang diberikan berdasarkan penilaian atas prestasi yang telah dicapai oleh seorang guru dalam mengerjakan butir rincian kegiatan yang dipergunakan sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan kenaikan pangkat dalam jabatan guru.

Baca juga: 8 Kendala Guru dalam Melaksanakan PTK

Sebelum melakukan PTK, ada baiknya memperkaya pengetahuan tentang apa tujuan PTK, apa karakteristisk PTK, apa prinsip-prinspi PTK dan apa perbedaan PTK dengan penelitian formal. Mari kita simak penjelasannya.

1.       Tujuan PTK

PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, menurut Wiriatmadja (2005) PTK dapat berfungsi sebagai: (a) alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam system yang ada secara alami pendekatan tambahan atau inovasi’ (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e) alat untuk menyediakan alternative bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas; (f) alat untuk mengembangkan keterampilan guru yang bertolak dari kebutuhan untuk mengulangi berbagai permasalahan pembelajaran actual yang dihadapi di kelasnya.

Secara garis besar bahwa tujuan utama PTK adalah untuk mengubah perilaku pengajaran guru, perilaku peserta didik kelas, peningkatan proses pembelajaran sehingga dapat menciptakan guru professional dan lulusan yang memiliki daya saing. Dengan adanya PTK dapat meningkatkan kepercayaan guru dan dapat meningkatkan kreativitas melalui hasil-hasil PTK yang memiliki innovative value.

2.       Karakteristik PTK

Beberapa pakar mengemukakan karakteristik tindakan kelas sebagai berikut: (1) didasarkan atas masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran; (2) dilakukan secara kolaboratif melalui kerjasama dengan pihak lain; (3) peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; (4) bertujuan memecahkan masalah atau meningkatkan mutu pembelajaran dan (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah yang terdiridari beberapa siklus; (6) yang diteliti adalah tindakan yang dilakukan, meliputi efektivitas metode, teknik, atau proses pembelajaran; (7) tindakan yang dilakukan adalah tindakan yang diberikan oleh guru kepada peserta didik (Sulipan, 2007).

Pakar yang lain menyebutkan ada enam karakteristik penelitian tindakan kelas (Winter, 1996), yaitu: (a) kritik refleksi, yaitu adanya refleksi yang bersifat evaluasi pelaksanaan pembelajaran; (2) kritik dialektis, yaitu adanya pandangan kritis dan objektif terhadap kelemahan atau hambatan dalam pelaksanaan; (3) kolaboratif, yaitu adanya kerjasama dengan pihak lain untuk mengamati atau sumber data atas masalah yang dihadapi dalam pembelajaran; (4) resiko, berarti peneliti atau guru sendiri harus berani mengambil resiko bahwa hipotesisnya meleset atau beresiko untuk melakukan perubahan yang bersifat perbaikan; (5) susunan jamak, yaitu bersifat reflektif, dialektis, partisipatif, dan kolaboratif; dan (6) internalisasi teori dan praktik, artinya teori dan praktik bukanlah hal yang terpisah, tetapi hanyalah  merupakan satu hal yang memiliki tahapan berbeda, yang saling bergantung satu sama lain, dengan demikian pengembangan teori akan berakibat pada praktik demikian juga pengembangan praktik yang berdampak pada teori.

Sedangkan menurut Priyono (1999) karakteristik PTK adalah (1) masalah yang dijadikan objek penelitian muncul dari dunia kerja peneliti itu sendiri, (2) bertujuan memecahkan masalah guna peningkatan kualitas , (3)menggunakan data yang beragam, (4) langkah-langkahnya merupakan siklus dan (5) mengutamakan kerja kelompok.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa karakteristik PTK secara garis besar adalah: (1) mengkaji permasalahan situasional dan kontekstual, 2) adanya tindakan, 3) adanya evaluasi terhadap tindakan, 4) pengkajian terhadap tindakan, 5) adanya kerja sama, 6) adanya refleksi.

3.       Prinsip-Prinsip PTK

Sulipan (2007) dalam modul KTI online mengemukaan prinsip-prinsip PTK secara umum adalah:

(1)    Tidak mengganggu komitmen guru sebagai pengajar;

(2)    Metode pengumpulan data tidak menuntut waktu yang berlebihan

(3) Metodologi yang digunakan harus reliable sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan;

(4)    Masalah berawal dari kondisi nyata dikelas yang dihadapi guru

(5)    Dalam penyelenggaraan penelitian, guru harus memperhatikan etika profesionalisme guru;

(6) Meskipun yang dilakukan adalah di kelas, tetapi harus dilihat dalam konteks sekolah secara menyeluruh;

(7)    Tidak mengenal populasi dan sampel

(8)    Tidak mengenal kelompok eksperimen dan control;

(9)    Tidak untuk digeneralisasikan

Sedangkan Kardiawarman (2007) mengemukakan prinsip-pronsip PTK adalah: 1) tidak mengganggu komitmen mengajar; 2) tidak menuntut waktu khusus; 3) masalah yang diteliti harus merupakan masalah yang dihadapi oleh guru.

4.       Perbedaan PTK dengan Penelitian Formal

PTK mempunyai perbedaan dengan penelitian formal, perbedaan esensi adalah keterlibatan guru dengan tujuan untuk memperbaiki proses belajar mengajar.

Penelitian Non PTK

PTK

·         Dilakukan oleh orang dari luar

·         Dilakukan oleh guru

·         Selalu memperhatikan populasi dan sampel

·         Tidak kenal istilah populasi dan sampel

· Kurang memperhatikan ukuran/kerepresentatifan sampel

·  Validitas dan reliabelitas instrument harus dikembangkan dan diuji

·         Instrument cukup memiliki validasi isi

·    Menuntut penggunaan analisis statistic yang kompleks

·         Tidak digunakan analisis statistik

·   Sering memerlukan pembanding atau kelas kontrol

· Tidak memerlukan kelas control sebagai pembanding keberhasilan

·         Mempersyaratkan hipotesis penelitian

·   Tidak selalu menggunakan hipotesis penelitian (kecuali yang berkaitan dengan uji teori)

Tujuannya untuk:

·         Mengembangkan pengetahuan umum (teori)

·         Tidak langsung memperbaiki praktik pembelajaran, tetapi melalui RDD

·         Tujuannya untuk

·  Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung

·         Memperbaiki mutu proses pembelajaran

Sumber: Ditjen PMPTK Depdiknas

Berdasarkan perbedaan di atas Nampak jelas bahwa arahan PTK untuk memperbaiki kualitas mengajar yang secara tidak langsung dapat meningkatkan kinerja atau profesionalisme guru. PTK juga merupakan wujud dari pengembangan kurikulum dan berguna untuk merencanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di masa mendatang, untuk memilih metode dan teknik yang tepat untuk proses pembelajaran. Tetapi meskipun demikian PTK harus memiliki kaidah-kaidah ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan.

 

Sumber Referensi:

Kardiawarman. 2007. Penelitian Tindakan Kelas Panduan Direktorat Pembina Diklat. Ditjen PMPTK

Sulipan. 2007Penelitian Tindakan Kelas. P4TK BMTI Bandung

Wiriatmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas, UPI Bandung dan Rosda

Winter, Richard. 1996. New Directions In Action Research. Washington DC: The Palmer Press

 

Monday, September 27, 2021

PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

Prosedur penelitian tindakan kelas merupakan proses pengkajian melalui system berdaur dari berbagai kegiatan pembelajaran, menurut Raka Joni (1998) terdapat 4 tahapan yaitu: Pengembangan focus masalah penelitian; Perencanaan tindakan perbaikan; Pelaksanaan tindakan perbaikan; observasi dan interpretasi; Analisis dan refleksi. Secara lebih rinci, prosedur pelaksanaan PTK dapat digambarkan sebagai berikut. Untuk lebih jelasnya rangkaian kegiatan dari setiap siklus dapat dilihat pada gambar berikut.

               

Dalam pelaksanaannya PTK diawali dengan kesadaran akan adanya permasalahan yang dirasakan mengganggu, yang dianggap menghalangi pencapaian tujuan pendidikan sehingga ditengarai telah berdampak kurang baik terhadap proses dan atau hasil belajar peserta didik, dan atau implementasi sesuatu program sekolah. Bertolak dari kesadaran mengenai adanya permasalahan tersebut, kemudian guru menetapkan focus permasalahan secara lebih tajam kalau perlu dengan mengumpulkan tambahan data lapangan secara lebih sistematis dan atau melakukan kajian pustaka yang relevan.

                Pada gilirannya dengan perumusan permasalahan yang lebih tajam itu dapat dilakukan diagnosis kemungkinan-kemungkinan penyebab permasalahan secara lebih cermat, sehingga terbuka peluang untuk memilih alternative-alternatif tindakan perbaikan yang dinilai terbaik, kemudian diterjemahkan menjadi program tindakan perbaikan yang akan dicobakan. Hasil percobaan tindakan perbaikan yang dinilai dan direfleksikan dengan mengacu kepada kriteria-kriteria perbaikan yang dikehendaki yang telah ditatpkan sebelumnya.

                Setelah permasalahan ditetapkan, pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus  pertama yang terdiri atas empat langkah kegiatan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Apabila sudah diketahui keberhasilan atau hambatan dalam tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama, peneliti kemudian mengidentifikasi permasalahan baru untuk menentukan rancangan siklus berikutnya. Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi keberhasilan, untuk myakinkan atau untuk menguatkan hasil. Tetapi pada umumnya kegiatan yang dilakukan dalam siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan sebelumnya yang ditunjukan untuk mengatasi berbagai hambatan/ kesulitan yang ditemukan dalam siklus sebelumnya.

                Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, peneliti dapat melanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan peneliti belum merasa puas dapat dilanjutkan pada siklus ketiga yang tahapannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa siklus harus dilakukan. Banyaknya siklus tergantung dari kepuasan peneliti sendiri, namun ada saran sebaiknya tidak kurang dari dua siklus.

A.      Penetapan Fokus Permasalahan

Secara umum karakteristik suatu masalah yang layak diangkat untuk PTK adalah sebagai berikut.

1.       Masalah itu menunjukkan suatu kesenjangan antara teori dan fakta empiric yang dirasakan dalam proses pembelajaran. Apabila hal ini terjadi, guru merasa prihatin atas terjadinya kesenjangan, timbul kepedulian dan niat untuk mengurangi tersebut dan berkolaborasi dengan dosen/widyaiswara/pengawas untuk melaksanakan PTK.

2.       Masalah tersebut memungkinkan untuk dicari dan diidentifikasi factor-faktor penyebabnya. Faktor-Faktor tersebut menjadi dasar atau landasan untuk menentukan alternative solusi.

3.       Adanya kemungkinan untuk dicarikan alternative solusi bagi masalah tersebut melalui tindakan nyata yang dapat dilakukan guru/peneliti.

Dianjurkan agar masalah yang dipilih untuk diangkat sebagai masalah PTK adalah yang memiliki nilai yang bukan sesaat, tetapi memiliki nilai strategis bagi keberhasilan pembelajaran lebih lanjut dan memungkinkan diperolehnya model tindakan efektif yang dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah serumpun.

Pada tahap selanjutnya dilakukan identifikasi masalah yang sangat menarik perhatian. Aspek penting pada tahap ini adalah menghasilkan gagasan-gagasan awal mengenai permasalahan actual yang dialami dalam pembelajaran. Tahap ini disebut identifikasi permasalahan. Cara melakuakan identifikasi permasalahan masalah antara lain sebagai berikut.

1.       Menuliskan semua hal (permasalahan) yang perlu diperhatikan karena akan mempunyai dampak yang tidak diharapkan terutama yang berkaitan dengan pembelajaran.

2.       Memilah dan mengklasikan permaslahan menurut jenis/bidangnya, jumlah siswa yang akan mengalaminya, serta tingkat frekuensi timbulnya masalah tersebut.

3.       Mengurutkan dari yang ringan, jarang terjadi, banyaknya siswa yang mengalami untuk setiap permasalahan yang teridentifikasi.

4.       Dari setiap urutan diambil beberapa masalah yang dianggap paling penting untuk dipecahkan sehingga layak diangkat menjadi masalah PTK. Kemudian dikaji kelayakannya dan manfaatnya untuk kepentingan praktis, metodologis maupun teoritis.

Agar mampu merasakan dan mengungkapkan adanya masalah guru harus jujur pada diri sendiri dan melihat pembelajaran yang dikelolanya sebagai bagian penting dari dunianya. Dilanjutkan analisis untuk menentukan kepentingan. Sebelum menganalisis masalah kita harus mengumpulkan data terlebih dahulu. Analisis dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri (refleksi), mengkaji ulang berbagai dokumen (pekerjaan siswa, daftar hadir, daftar nilai, bahan pelajaran, dll) tergantung jenis masalah yang diidentifikasi.

Analisis masalah dipergunakan untuk merancang tindakan baik dalam bentuk spesifikasi tindakan, keterlibatan peneliti, waktu dalam satu siklus, indicator keberhasilan, peningkatan sebagai dampak tindakan dan hal-hal yang terkait lainnya dengan pemecahan yang diajukan. Pada tahap selanjutnya masalah-masalah yang telah diidentifikasi dan ditetapkan dirumuskan secara jelas, spesifik dan operasional. Perumusan masalah yang jelas memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Contoh rumusan masalah yang mengandung tindakan alternative yang ditempuh antara lain sebagai berikut.

1.       Apakah metode diskusi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis?

2.       Apakah pembelajaran berorientasi proses dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran?

3.       Apakah metode karyawisata dapat meningkatkan partisispasi siswa dalam kegiatan pembelajaran[H1] ?

4.       Apakah penggunaan metode roleplay dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPS?

B.      Perencanaan Tindakan

Setelah masalah dirumuskan secara operasional perlu dirumuskan alternative tindakan yang akan diambil. Alternatif tindakan yang akan diambil dapat dirumuskan kedalam bentuk hipotesis tindakan dalam arti dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi jika suatu tindakan dilakukan. Perencanaan tindakan memanfaatkan secara optimal teori-teori yang relevan dan pengalaman yang diperoleh dimasa lalu dalam kegiatan pembelajaran/penelitian sebidang. Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis penelitian formal.

                Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk keyakinan tindakan yang diambil akan dapat memperbaiki system, proses, atau hasil. Hipotesis tindakan sesuai dengan permaslahaan yang akan dipecahkan dapat dicontohkan seperti di bawah ini.

1.       Metode diskusi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS

2.       Pembelajaran berorientasi proses dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.

3.       Metode karyawisata dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.

4.       Penggunaan metode roleplay dapat meningktakan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPS.

Secara rinci tahapan perencanaan tindakan terdiri atas kegiatan-kegiatan sebagai berikut.

1.       Menetapkan cara yang akan dilakukan untuk menemukan jawaban, berupa rumusan hipotesis tindakan.

2.       Menentukan cara yang tepat untuk menguji hipotesis tindakan dengan menjabarkan indicator-indikator keberhasilan serta instrument pengumpul data yang dapat dipakai untuk menganalisis indicator keberhasilan itu

3.       Membuat secara rinci rancangan tindakan yang akan dilaksanakan

 

C.      Pelaksanaan Tindakan

Pada tahapan ini, rancangan strategi dan scenario pembelajaran diterapkan . Skenario tindakan harus dilakuakan secara benar tampak berlaku wajar. Pada PTK yang dilakuakn guru, pelaksanaan tindakan umumnya dilakukan dalam waktu antara 2 sampai 3 bulan. Waktu tersebut dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan sajian beberapa pokok bahasan dan mata pelajaran tertentu. Berikut disajikan contoh aspek-aspek rencana (scenario) tindakan yang akan dilakukan pada satu PTK.

1.       Dirancang penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS untuk pokok bahasan : A, B, C dan D

2.       Format tugas: pembagian kelompok kecil sesuai jumlah pokok bahasan, pilih ketua, sekretaris dll.oleh dan dari anggota kelompok, bagi topic bahasan untuk kelompok dengan cara random, dengan cara menyenangkan.

3.       Kegiatan kelompok; mengumpulkan bacaan, melalui diskusi anggota kelompok bekerja/belajar memahami materi, menuliskan hasil diskusi dalam power poin/OHP untuk persiapan presentasi.

4.       Presentasi dan diskusi pleno; masing-masing kelompok menyajikan hasil kerjanya dalam pleno kelas, guru sebagai moderator, lakukan diskusi, ambil kesimpulan sebagai hasil pembelajaran.

5.       Jenis data yang dikumpulkan: berupa makalah kelompok, power poin/OHP hasil kerja kelompok, siswa yang aktif dalam diskusi serta hasil belajar yang dilaksanakan sebelum (pretes)  dan setelah (postes) tindakan dilaksanakan.

 

D.      Pengamatan/Observasi dan Pengumpulan Data

Tahapan ini sebenarnya berjalan secara bersamaan pada saat pelaksanaan tindakan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Pada tahapan ini, peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/ penilaian yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan scenario tindakan dari waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif ( hasil tes, hasil kuis, presensi nilai tugas dan lain-lain) tetapi juga data kualitatif yang menggambar keaktifan siswa, antusias siswa, mutu diskusi yang dilakukan dan lain-lain.

                Observasi dilakukan bertujuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menjawab masalah tertentu. Dalam penelitian formal, tujuan observasi untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable, data tersebut diolah untuk menguji hipotesis. Dalam PTK tujuan observasi adalah memantau proses dan dampak perbaikan yang direncanakan. Sasaran observasi dalam PTK adalah proses dan hasil pembelajaran yang direncanakan sebagai tindakan perbaikan.

                Instrumen yang umum dipakai dalam PTK adalah (a) soal tes, kuis; (b) rubric; (c) lembar observasi dan (d) catatan lapangan yang dipakai untuk memperoleh data secara objektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi, seperti aktivitas siswa selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau petunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.

 

E.       Refleksi

Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdarsar data yang telah terkumpul dan kemudian melakukannevaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Analisis data dilakuakn setelah satu paket perbaikan selesai diimplementasikan secara keseluruhan. Analsis data dapat dilakuakn secara bertahap:

1.       Menyeleksi dan mengelompokkan (reduksi data)

2.       Memaparkan atau mendiskripsikan data (narasi, grafik atau table)

3.       Menyimpulkan atau memberi makna

               Dengan analisis data guru dapat memperkirakan dampak perbaikan yang dilakukan nya dan membantu guru dalam melakukan refleksi. Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dan proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaanulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang shingga permasalahan yang dihadapi dapat teratasi.

 

Sumber Pustaka: Warso, Agus Wasisto Dwi Doso. (2015). Publikasi Ilmiah Penelitian Tindakan Kelas.                Yogyakarta: Graha Cendekia


 [H1]de

Tuesday, July 3, 2018

Contoh Diktat IPA Kelas 6 Semester 1


Guru mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan proses pendidikan  di sekolah. Peran guru tersebut sangat berkaitan dengan pembelajaran di sekolah. Pembelajaran di sekolah menuntut seorang guru yang profesional dalam tugas dan fungsinya. Sebagai guru yang profesional, seorang guru harus senantiasa mengembangkan profesionalisme guru.
Sebagai bentuk usaha pengembangan profesionalisme guru sebagai tenaga profesional, maka pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang No 14 tahun 2005
tentang guru dan dosen dan peraturan pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan akan memfasilitasi guru untuk dapat mengembangkan keprofesiannya secara berkelanjutan.
Sejak menduduki jabatan guru muda/IIIb seharusnya sudah dapat menulis saah satu atau beberapa jenis publikasi ilmiah. Disamping itu adanya ketentuan bahwa pada kenaikan pangkat/jabatan mulai guru madya ke atas wajib membuat publikasi ilmiah non penelitian.
Yang akan saya bahas disini adalah publikasi ilmiah non penelitian berupa diktat. Diktat adalah catatan tertulis suatu mata pelajaran atau bidang studi yang dipersiapkan guru untuk mempermudah, memperkaya materi/bahan ajar yang disampaikan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Besaran angka kredit diktat adalah sebagai berikut:
1.      Diktat yang digunakan di tingkat provinsi: angka kreditnya 1,5
2.      Diktat yang digunakan di tingkat kabupaten: angka kreditnya 1
3.      Diktat yang digunakan di tingkatsekolah: angka kreditnya 0,5
Dinyatakan sebagai diktat dan dapat dinilai jika memenuhi syarat sebagai berikut:
Jika berisi atau mempermasalahkan permasalahan nyata dibidang pendidikan formal pada satuan pendidikannya yang sesuai dengan tugas guru yang bersangkutan. Bila membuat diktat paling tidak menggunakan kerangka penulisan sebagai berikut:
Bagian Pendahuluan
-          Daftar Isi
-          Penjelasan tujuan diktat pelajaran
Bagian isi
- Judul bab atau topik isi bahasan
- Penjelasan tujuan bab
- Uraian isi pelajaran
- Penjelasan teori
- Sajian contoh
- Soal Latihan
Bagian Penunjang
-          Daftar Pustaka

Sumber Rujukan: Warso, Agus Wasisto Dwi Doso. Publikasi Ilmiah Non Penelitian. Yogyakarta: Graha cendekia
Berikut akan disajikan contoh diktat IPA kelas 6 semester 1 sesuai dengan kerangka yang telah dijelaskan di atas.


Thursday, May 19, 2016

Teknik Penyusunan dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah




Sumber: http://nahason-bastin.blogspot.co.id/2016/02/tips-memenangkan-lomba-karya-tulis.html
Dalam penyusunan dan penulisan Karya Tulis Ilmiah  ada beberapa tahapan yang mesti diperhatikan antara lain:

1.      Tahap Persiapan atau Tahap Mempersiapkan KTI
a). Mengenal Unsur Tulisan
Dalam sebuah karya tulis ilmiah, penulis bermaksud menyampaikan hasil pengamatannya terhadap sebuah gejala, atau hasil pemikirannya tentang gejala, konsep atau teori tertentu. Mungkin hanya ada satu atau beberapa hal yang ingin diungkapkan dalam tulisan, namun lebih sering kita dapati bahwa penulis membicarakan beberapa hal yang saling terkait.
b). Menyusun Argumen
Argumentasi adalah sejumlah pertanyaan atau proporsi, satu diantaranya dianggap sebagai kesimpulan dari yang lainnya, sementara pernyataan-pernyataan yang lainnya ini dinilai mendukung kebenaran kesimpulan yang ditarik.. Sebuah argument dapat disampaikan dalam beberapa kalimat, beberapa alenia atau sebuah  tulisan sepanjang satu buku.
c). Menyiapkan Ragang/Kerangka Tulisan
Salah satu cermin keilmiahan sebuah karya tulis adalah perencanaan susunan tulisan secara runtut. Perencanaan susunan tulisan secara runtut berarti proses awal perenungan gagasan dalam bentuk tajuk atau babak sedemikian rupa sehingga membentuk tata urutan. Hasil perencanaan tersebut adalah Ragang/rangka. Dalam konteks penulisan karya ilmiah yang dimaksud dengan ragang adalah rangka yang memperlihatkan rencana keseluruhan muatan tulisan. Rangka tersebut dinyatakan atau ditulis dalam bentuk kata ataupun kalimat. Dengan demikian ragang dapat “direncanakan” didalam benak seorang penulis atau dengan kata lain dituliskan.
d) Menyusun Referensi
Referensi yang berarti daftar acuan/daftar rujukan dalam konteks penulisan adalah sumber yang dirujuk oleh penulis KTI nya, pustaka yang tidak dirujuk dalam suatu karya tulis ilmiah tidak perlu dicantumkan.

2.      Tahap Penulisan dan Penyusunan KTI
a)      Menata Alur Wacana
Kata wacana sering diberikan makna gagasan awal yang belum matang dan sengaja dilontarkan untuk memperoleh tanggapan. Kendati demikian wacana merupakan satuan bahasa yang terbesar dan terlengkap yang terdiri dari beberapa kalimat dan setiap kalimat dalam wacana itu berhubungan dengan kalimat lain atau dengan kerangka acuannya. Hubungan antara kalimat inilah yang membuat kalimat itu dipahami secara lengkap, dan juga memungkinkan terjadinya hubungan dialogis. Hubungan antar kalimat tersebut biasanya disebut sebagai hubungan kohesif. Untuk menyusun sebuah wacana yang apik itu digunakan tata bahasa dan kosa kata yang tepat.
b)     Menyusun Paragraf
Paragraf merupakan bagian dari sebuah wacana tertulis yang ditandai dengan mulainya baris baru. Wujud lain yang menjadi penanda paragraph adalah kalimat setiap paragraph terdiri dari beberapa kalimat. Kalimat-kalimat yang membentuk sebuah paragraph tentu kalimat-kalimat yang berhubungan satu sama lain yang membentu sebuah gagasan.
Agar sebuah KTI memiliki kualitas baik maka paragraf yang terdapat dalam KTI tersebut harus memenuhi syarat sebagai berikut:
-          Apakah dalam paragraf tersebut hanya terdapat satu gagasan pokok
-          Apakah kalimat-kalimat dalam paragraf tersebut bertalian atau berhubungan satu sama lain secara erat.
-          Apakah pengurutan gagasan-gagasan bawahan (untuk menunjang gagasan pokok) dalam paragraf diwujudkan dengan penataan kalimat yang teratur.
Ketiga factor tersebut ini biasanya disebut dengan istilah kesatuan, kepaduan, dan pengembangan paragraf
c). Penulisan Kalimat
Dalam sebuah karya tulis ilmiah, kalimat merupakan tatanan bahasa yang menghasilkan tulisan yang efektif jika dirakit secara logis dan cermat.
Dua hal yang harus dikenali secara akrab oleh penulis sebuah karya tulis ilmiah adalah jenis kalimat dan pemahaman kalimat efektif. Mengenai jenis kalimat dapat diuraikan sebagai berikut: jenis kalimat pernyataan (deklaratif), kalimat pertanyaan (interogatif), kalimat perintah dan permintaan (imperative) dan kalimat seruan (eksklamatif)

3.      Tahap Meninjau Ulang dan Menyempurnakan KTI
KTI pada dasarnya menyampaikan gagasan kepada pembaca. Gagasan itu sampai pada pembaca jika terdapat kejelasan. Kejelasan itu dapat mencakup anatara lain:
-          Sistematika
-          Struktur kalimat
-          Ketepatan penulisan (ejaan)
Sebuah tulisan yang tidak runtut atau tidak sistematis akan sulit dipahami pembaca. Tulisan dalam wujud kalimat yang tidak karuan strukturnya juga akan membingungkan pembaca. Tulisan yang penuh salah cetak  dan ejaan tentu akan menjengkelkan pembaca. Kesempurnaan sebuah karya tulis ilmiah ditentukan oleh kecermatan penulis dalam memenggal kata, menulis kata, menulis gabungan kata, memakai huruf capital dan memakai tanda baca.

Sumber: Hamdani, Nizar Alam. 2008. Classroom Action Research. Rahayasa Research and Training

Sunday, May 15, 2016

8 Kendala Guru dalam Melaksanakan PTK





Sumber Foto: http://modelpembelajaransd.blogspot.com/2014/08/kendala-pelaksanaan-pembelajaran-kurikulum-2013-di-sd.html
Penelitian tindakan kelas cukup berhasil memecahkan masalah-masalah guru dalam menjalankan profesinya sekaligus guna meningkatkan kinerjanya. Akan tetapi banyak kendala-kendla yang dihadapi oleh guru. Wijaya Kusumah dan Dedy Dwitagama dalam bukunya “ Kenapa Guru Takut PTK” mengemukakan kendala-kendala guru dalam melaksanakan PTK antara lain:
1.      Guru Kurang Memahami Profesi Guru
Di dunia ini hanya ada dua profesi. Profesi guru dan bukan guru. Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Para guru hendaknya menyadari profesi mulia ini. Guru harus dapat memahami peran dan fungsi guru di sekolah. Guru sekarang bukan hanya guru yang mampu mentransfer ilmunya dengan baik, tetapi juga mampu digugu dan ditiru untuk memberikan tauladan kepada siswanya. Siswa butuh figure untuk menjadi tauladan yang bukannya hanya mulia dimata manjusia, tetapi juga dimata Tuhan pemilik bumi. Profesi ini sangat menjanjikan untuyk mereka yang berhati mulia. Hati yang bersih dan suci akan terpancar dari wajahnya yang selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5S dalam kesehariannya (Salam, Sapa, Sopan, Senyum, Sabar)
2.      Guru Malas Membaca
Saat ini kita melihat banyak guru yang malas membaca. Padahal dari membaca itulah akan terbuka wawasan yang luas dari para guru. Kesibukan-kesibukan mengajar membuat guru merasa kurang sekali waktu untuk mermbaca. Coba kita lihat di perpustakaan sekolah. Terlihat sekali banyak guru yang jarang pergi ke perpustakaan. Ini nyata, dan terjadi di sekolah kita. Bukan hanya di sekolah, di rumahpun guru malas membaca. Guru harus melawan kebiasaan malas membaca. Ingatlah dengan membaca kita dapat membuka jendela dunia.
3.      Guru Malas Menulis
Masalah yang timbul pada saat pembelajaran berlangsung. Sering kali guru sudah mengatasinya atau mengadakan perbaikan-perbaikan dengan caranya sendiri. Namun oleh karena tidak biasa menulis, maka apa yang sudah diperbuat guru tersebut hanaya tinggal kenangan dan tidak diketahui oleh teman sejawat atau orang yang membutuhkan pemecahan masalah seperti yang dialami guru tersebut.
4.      Guru Kurang Sensitif Terhadap Waktu
Orang Barat menyatakan bahwa waktu adalah uang, time is money. Bagi guruwaktu lebih dari uang dan bahkan bagaikan sebilah pedang tajam yang dapat membunuh siapa saja termasuk pemiliknya. Pedang yang tajam bias berguna untuk membantu guru dalam menghadapi hidup ini, namun bias juga pembunuh dirinya sendiri. Bagi guru yang kurang memanfaatkan waktunya dengan baik, maka tidak banyak prestasi yang diraih dalam hidupnya. Dia akan terbunuh oleh waktu. Detik demi detik waktunya teratur dan terjaga dari sesuatu yang kurang baik serta sangat berharga.
5.      Guru Terjebak dalam rutinitas Kerja
Kesibukan kerja setiap hari menjadi rutinitas yang tidak henti. Guru harus pandai mengatur rutinitas kerjanya. Jangan sampai guru terjebak sendiri dengan rutinitasnya justru tidak menghantarkan dia menjadi guru yang baik dan menjadi tauladan siswanya. Guru harus pandai mensiasati pembagian waktu kerjanya. Buatlah jadwal yang terencana. Buang kebiasaan-kebiasaan yang membawa guru untuk tidak terjebak di dalam rutinitas kerjanya, misalnya pandai mengatur waktu dengan baik, membuat diary atau catatan harian yang ditulis dalam agenda guru dan lain-lain. Rutinitas kerja tanpa sadar membuat guru berpola menjadi guru pasif bukan aktif. Hari-harinya diisi hanya untuk mengajar saja. Dia tidak mendidik dengan hati. Waktunya di sekolah hanya sebatas sebagai tugas rutin mengjar yang tidak punya nilai apa-apa. Guru hanay melakukan transfer of knowledge. Tidak mau tahu dengan kondisi lingkungan dan kondisi sekolah apalagi kondisi siswa. Dia menganggap pekerjaan dia adalah karirnya, karena itu dia berusaha keras agar yang dilakukannya bagus dimata pemimpinnya atau kepala sekolah. Tak ada upaya untuk  keluar dari rutinitas kerjanya yang membosankan.
6.      Guru Kurang Kreatif dan Inovatif
Merasa sudah berpengalaman membuat guru menjadi kurang kreatif. Guru malas mencoba sesuatu yang baru dalam pembelajarannya. Dia merasa sudah cukup. Tidak ada upaya untuk menciptakan sesuatu yang baru dari pembelajarannya. Dari tahun ke tahun gaya mengajarnya itu-itu saja. Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang dibuat pun dari tahun ke tahun sama, hanya sekedar copy and pastetanggal dan tahunnya saja. Rencana program pembelajaran tinggal menyalin dari kurikulum yang dibuat oleh pemerintah atau menyontek dari guru lainnya. Guru menjadi tidak kreatif. Proses kreatif menjadi tidak jalan. Untuk melakukan suatu proses kreatif dibutuhkan kemauan untuk melakukan inovasi yang terus menerus, tiada henti. Guru yang kreatif adalah guru yang selalu bertanya pada dirinya sendiri. Apakah dia sudah menjadi guru yang baik? Apakah siswanya mengerti tentang apa yang dia sampaikan? Dia selalu memperbaiki dirinya. Dia selalu merasa berkurang  dalam proses pembelajarannya. Dia tidak pernah puas dengan apa yang dia lakukan. Selalu ada inovasi baru yang dia ciptakan dalam proses pembelajarannya. Dia selalu belajar sesuatu yang baru, dan merasa tertarik untuk membenahi cara mengajarnya.
7.      Guru Malas Meneliti
Paling sering kita dengarbahwa guru malas untuk meneliti.Setiap tahun pemerintah maupun swasta melakukan lomba karya tulis ilmiah untuk para guru, dengan harapan guru mau meneliti. Namun, hanya sedikit guru yang memanfaatkan peluang ini dengan baik. Padahal ini sangat baik untuk guru berlatih menulis, dan menyulut guru untuk meneliti. Dari meneliti itulahguru akan tahu pembelajarannya. Penelitian diselenggarakan untuk memperbaiki hal-hal yang telah dilakukan agar menjadi lebih baik atau menciptakan sesuatu yang baru. Guru yang terbiasa meneliti, akan segera memperbaiki kinerjanya yang tidak baik, objek penelitian dalam PTK adalah siswa yang dihadapi oleh guru itu sendiri pada saat proses pembelajarannya.
8.      Guru Kurang memahami PTK
Kenyataan yang ada adalah bahwa banyak guru yang kurang memahami penelitian tindakan kelas atau PTK. Guru menganggap bahwa PTK itu sulit. Padahal PTK itu tidak sesulit apa yang dibayangkan. PTK dilakukan dari keseharian kita mengajar di kelas. Guru hanya perlu merenung sedikit tentang proses pembelajarannya. Dari hasil renungan ini, muncul gagasan atau ide-ide dari guru tersebut terhadap kelemahan/kekurangan proses pembelajaran yang baru saja dilaksanakan dan  dan selanjutnya melaksanakan perbaikan dalam bentuk PTK.

Sedangkan Sudikin (2002) mengemukakan bahwa kendala guru dalam melakukan PTK adalah 1)lemahnya pemahaman PTK, 2)Belum memahami bahwa PTK sebagai strategi pengembangan guru, 3) Kendala reflecting thinking. 4) Kendala yan g berhubungan dengan tidak adanya pembimbingan dari sekolah, 5) Kendala yang berhubungan dengan mentalitas guru.
Oleh karena itu semua pihak diharapkan mendukung pelaksanaan PTK, baik guru sendiri, kepala sekolah, peneliti maupun LPTK. Kerja sama dan networkingharus dibangun oleh pihak sekolah untuk terlaksananya program PTK dengan baik dan yang paling penting guru harus memiliki paradigm to change untuk mengikuti perkembangan yang ada.

Sumber:
Hamdani, Nizar Alam. 2008. Classroom Action Research. Rahayasa Research and Training
Kusumah, Dwitagama.2007.Buku PTK. Labschool Jakarta Indonesia
Sudikin,Basrowi. 2002. Manajemen peneltian Tindakan Kelas. Insan Cendekia